Desa Banyuanyar Boyolali Kenalkan Tari Bregodo Lembu dan Kopi Barendo, Ubah Potensi Susu dan Kopi Jadi Karya Seni Ikonik

Administrator
24 November 2025
1834 kali dibaca
Image 1

RADARSOLO.COM - Banyak desa di Boyolali memiliki potensi unggulan.

Salah satunya Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel yang berhasil mengembangkan potensi desa dalam sebuah karya seni.

Terinspirasi dari melimpahnya hasil susu dan kopi, Banyuanyar memperkenalkan dua tari ikon warisan budaya, yakni Tari Bregodo Lembu dan Tari Kopi Barendo.

Kepala Desa Banyuanyar Komarudin mengungkapkan, Banyuanyar memiliki dua potensi kuat yang sangat melekat dalam kehidupan, yakni perkebunan kopi dan peternakan sapi perah.

“Dua aktivitas ini bukan hanya menjadi sumber mata pencarian, tetapi juga membentuk keseharian dan budaya kerja masyarakat," jelas Komarudin kepada radarsolo.jawapos.com, Minggu (23/11/2025).

"Kesadaran bahwa potensi lokal tersebut dapat diolah menjadi kekuatan seni yang khas kemudian menjadi titik awal upaya pengembangan branding desa wisata melalui pendekatan budaya,” imbuh dia.

Menurutnya, potensi alam dan kuliner sering menjadi fokus utama dalam branding desa.

Namun, kesenian mampu menghadirkan identitas secara lebih menarik, mudah diingat, dan punya kedekatan emosional dengan masyarakat.

Komarudin mengatakan, bahwa branding desa melalui kesenian bermula dilaksanakannya Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

“Karena itu, penguatan branding desa wisata berbasis kesenian menjadi salah satu pendekatan yang sangat relevan,” jelasnya.

Dari hasil observasi lapangan, tim PISN dari ISI Surakarta mendorong dua karya tari yang diambil langsung dari aktivitas masyarakat sehari-hari. Yakni tari bregodo lembu dan tari kopi barendo.

Komarudin menjelaskan, tari Bregodo Lembu Banyuanyar terinspirasi dari keseharian peternak sapi perah.

Gerakan tarinya mengekspresikan ketekunan, kedisiplinan, serta kerja sama antar para peternak.

Lalu tari Kopi Barendo yang menggambarkan pemetik kopi di Banyuanyar.

Gerakannya terinspirasi dari aktivitas panen kopi, mengalir dinamis dan menggambarkan kebersamaan warga.

“Selama ini Banyuanyar baru dikenal sebagai desa susu dan kopi. Tapi lewat seni, dua potensi itu bisa menjadi cerita lain yang menarik dan mudah dikenali wisatawan,” tambahnya.

Warga Banyuanyar juga menyambut baik adanya kesenian yang dikembangkan langsung dari aktivitas masyarakat dalam sehari-hari.

“Warga merasa terwakili. Mereka melihat diri mereka tampil di panggung, dan itu membuat mereka merasa dilibatkan,” pungkasnya. (fid)