Banyuanyar Menari: Desa di Boyolali Bakal Angkat Branding Lewat Seni Lokal

Esposin, BOYOLALI – Pemerintah Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, bersama ISI Surakarta akan menggelar acara Banyuanyar Menari pada Minggu (14/12/2025). Kegiatan ini menjadi ajang gelar potensi berbasis seni sekaligus langkah penguatan branding desa.
Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, mengatakan banyak desa wisata hanya berfokus pada potensi alam dan kuliner sebagai identitas. Namun, ia menilai satu aspek yang kerap terlewatkan padahal memiliki kekuatan cerita tinggi adalah kesenian lokal.
Melesat 66,9 Persen, Tabungan Emas Holding Ultra Mikro BRI Tembus 13,7 Ton
“Kesenian mampu menghadirkan identitas secara lebih menarik, mudah diingat, dan punya kedekatan emosional dengan masyarakatnya sendiri. Karena itu, penguatan branding desa wisata berbasis kesenian menjadi salah satu pendekatan yang sangat relevan,” kata dia dihubungi Espos, Minggu (23/11/2025).
Ia menjelaskan Desa Banyuanyar sejak lama memiliki potensi kuat di sektor perkebunan kopi dan peternakan sapi perah. Dua aktivitas ini tak hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga membentuk ritme keseharian dan budaya warganya.
Sadar akan potensi yang bisa diolah menjadi kekuatan seni khas, Komarudin mengatakan bahwa kesempatan pengembangan branding desa wisata berbasis budaya datang melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang diinisiasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendikti Saintek.
Melalui program tersebut, tim dari ISI Surakarta yang terdiri dari Prajanata Bagiananda Mulia sebagai ketua, serta Endang Purwasari, Priaji Iman Prakoso, dan Nandhang Wisnu Pamenang, melakukan pendampingan untuk merumuskan upaya branding berbasis budaya lokal. Tim itu kemudian menawarkan program Gelar Potensi Seni Berbasis Budaya Lokal sebagai langkah konkret menjadikan kesenian wajah baru desa wisata.
“Dari hasil observasi lapangan dan diskusi bersama warga serta perangkat desa terkait, tim mendorong dua karya tari yang diambil langsung dari aktivitas masyarakat sehari-hari,” jelasnya.
Tari pertama adalah tari Bregodo Lembu Banyuanyar, terinspirasi dari keseharian para peternak sapi perah. Ia mengatakan gerakan tarinya mengekspresikan ketekunan, kedisiplinan, dan kerja sama yang menjadi kekuatan para peternak.
Tari kedua adalah tari Kopi Barendo yang menggambarkan semangat para pemetik kopi di Banyuanyar. Gerakan tari Kopi Barendo diambil dari aktivitas panen kopi yang mengalir dinamis dan mencerminkan kebersamaan warga.
Komarudin menyambut baik inisiatif tim ISI Surakarta dan melihatnya sebagai peluang memperkuat citra desa wisata.
“Selama ini Banyuanyar baru dikenal sebagai desa susu dan kopi. Tapi lewat seni, dua potensi itu bisa menjadi cerita lain yang menarik dan mudah dikenali wisatawan,” kata dia.
Ia mengungkapkan warga merasa bangga karena kesenian yang dikembangkan bukan sesuatu yang dibuat-buat, melainkan lahir dari realitas hidup mereka sendiri. Warga merasa terwakili dan melihat kehidupan mereka menjadi bagian dari panggung seni, sehingga keterlibatan mereka semakin kuat.
Sementara itu, Ketua tim pendampingan, Prajanata Bagiananda Mulia, mengatakan branding desa wisata harus berangkat dari kehidupan lokal yang otentik.
“Setiap desa punya potensi unik. Kalau potensi itu diterjemahkan ke dalam seni, identitasnya akan jauh lebih kuat,” kata dia dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu.
Ia mengatakan pendekatan ini tidak hanya menghasilkan karya seni baru, tetapi juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap desa wisata yang sedang dibangun.
Sebagai puncak pendampingan, dua karya tari tersebut akan dipentaskan dalam acara Banyuanyar Menari pada 14 Desember 2025 di Banyuanyar, Boyolali.
Prajanata mengatakan acara ini tidak hanya menampilkan karya tari, tetapi juga menjadi momentum peluncuran motif batik khas Banyuanyar serta pembukaan spot wisata baru yang dirancang bersama masyarakat.
Melalui acara ini, lanjutnya, desa ingin menunjukkan bagaimana seni, budaya, dan potensi ekonomi lokal dapat berpadu dalam satu ruang perayaan.
Menurutnya, pengalaman Banyuanyar menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini sangat mungkin diterapkan di desa wisata lain. Selama potensi lokal digali serius dan diwujudkan dalam karya seni yang lahir dari kehidupan masyarakat, branding desa wisata akan menjadi lebih kuat, berkarakter, dan berkelanjutan.
“Pendekatan ini bukan sekadar membuat tontonan, tetapi menghidupkan kembali narasi budaya yang sudah lama menjadi bagian dari identitas desa,” jelas dia.
Berita Lainnya


Pemerintah Pusat Akan Ambil Keputusan Terkait Tuntutan Pencabutan PMK 81 Siang Ini


