UMKM Omah Toga Boyolali Didorong Jadi Pusat Ekonomi Hijau


UMKM Omah Toga Boyolali Didorong Jadi Pusat Ekonomi Hijau
Jumat, 19 September 2025, 18:38 WIB•2 Menit membaca

IKUTI PELATIHAN: Sejumlah ibu-ibu anggota UMKM Omah Toga Desa Banyuanyar, Boyolali, bersama tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro mengikuti pelatihan pengolahan produk herbal dalam program “Toga untuk Pemberdayaan Ekonomi Hijau”. (Foto: Ist)
NEWSREAL.ID, BOYOLALI- Dari tangan-tangan ibu rumah tangga di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali, lahir beragam produk herbal yang kini menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Usaha kecil yang tergabung dalam UMKM Omah Toga ini tak hanya menjaga tradisi jamu dan pangan sehat, tetapi juga mulai bergerak ke arah ekonomi hijau berkat sentuhan kampus.
Sejak Juni 2025, Omah Toga mendapat pendampingan intensif dari tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat yang dibiayai Direktorat Riset dan Pengabdian Kemendikbudristek. Program bertajuk “Toga untuk Pemberdayaan Ekonomi Hijau” ini berlangsung hingga November 2025.
Tim pengabdian dipimpin Anafil Windriya, SE, MM, bersama Agung Budiatmo, SSos, MM, dari Prodi Manajemen dan Administrasi Logistik, serta Dr Sri Utami Handayani, ST, MT dari Prodi Rekayasa Perancangan Mekanik, Sekolah Vokasi Undip.
Selama ini, Omah Toga dikenal sebagai sentra budidaya tanaman obat keluarga. Dari kunyit, jahe, temulawak, hingga bunga telang, semua diolah menjadi produk siap jual: teh herbal, cookies bunga telang, chiffon cake, sampai perawatan kecantikan alami.
Namun, keterbatasan teknologi pengolahan dan pemasaran membuat produk mereka belum mampu menembus pasar lebih luas.
Baca juga: Jaga Jantung dan Sendi, Siloam Gelar Simposium Medis Bahas Risiko Olahraga
Bawa Solusi
Di sinilah Undip masuk membawa solusi. Teknologi pengering berbasis panel surya dikenalkan untuk mengatasi ketergantungan pada sinar matahari. Pelatihan digital marketing juga diberikan agar produk Omah Toga bisa melesat lewat media sosial dan marketplace.
Tak ketinggalan, pencatatan keuangan sederhana serta inovasi desain kemasan turut diajarkan supaya produk lebih profesional dan kompetitif.
Respons masyarakat begitu positif. Salah satu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) mengaku, pendampingan ini membuka peluang baru. “Dulu kami hanya mengandalkan penjualan di warung desa dan promosi dari mulut ke mulut. Harapannya, produk Omah Toga bisa menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya penuh optimisme.
Lebih dari sekadar menggerakkan roda ekonomi desa, program ini sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), yakni meningkatkan kesehatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja layak, serta mendorong pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
Baca juga: Mentan Pastikan Stok Pupuk Subsidi Aman, Swasembada Beras Bisa Lebih Cepat
Kolaborasi kampus dan masyarakat ini diharapkan menjadikan Desa Banyuanyar sebagai contoh nyata desa dengan ekonomi hijau yang terus tumbuh dan berdaya saing. (tb)
Berita Lainnya




